Kesenian Gandrung, salah satu kesenian tradisional Bali kondisi kini semakin memprihatinkan, karena masyarakat jarang mementaskan kesenian langka itu, kecuali untuk kelengkapan kegiatan ritual.

"Masyarakat sangat jarang ’mengupah’ kesenian gandrung, kecuali seseorang untuk kepentingan membayar kaul (sesangi) setelah yang bersangkutan sembuh dari penyakitnya," kata I Nyoman Budi Warga, mahasiswa seni Kerawitan Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Kamis.

Ia melakukan penelitian dan pengkajian terhadap kesenian Gandrung di Banjar Suwung Batan Kendal, Desa Sesetan, Denpasar Selatan sebagai persyaratan meraih gelar S-1 dan mempertanggungjawabkan di hadapan tim dosen penguji lembaga pendidikan tinggi seni tersebut.

Kesenian Gandrung yang diwarisi secara turun temurun hanya dipentaskan untuk melengkapi kegiatan ritual piodalan di Pura Kahyangan setempat setiap 210 hari sekali.

"Bahkan kelengkapan berupa hiasan kepala (kekelungan) yang digunakan penari gandrung itu disakralkan masyarakat setempat," ujar Nyoman Budi Warga.

Meskipun kesenian langka itu jarang dipentaskan, namun kegiatan ritual yang khusus dipersembahyangkan terhadap kelengkapan seniman (gegelungan) tetap dilakukan setiap hari-hari baik (purnama).

"Saat disuguhkan sesajen, gegelungan itu ditaruh di atas kepala seseorang, kemudian yang bersangkutan mengelilingi banten sebanyak tiga kali," tutur Nyoman Budi Warga.

Kesenian Gandrung memiliki fungsi sakral dan hiburan, karena hanya dipentaskan untuk mengiringi kegiatan ritual di pura Kayangan Tiga Banjar Suwung Batan Kendal.

Upaya penelitian dan pengkajian menurut Nyoman Budi Warga diharapkan mampu membangkitkan dan mengembangkan kembali sebuah seni pertunjukan yang tergolong sangat tua di Banjar Suwung Batan Kendal, Denpasar Selatan.

Penelitian dan pengkajian yang dilakukan selama setahun terakhir, membahas beberapa masalah, antara lain eksistensi seni pertunjukan Gandrung, gending-gending sebagai pengiring tari serta fungsi seni pertunjukan tersebut.

Penelitian itu menurut I Nyoman Budi Warga menggunakan dua teori yang disebut sebagai "pisau bedah", seperti teori estetika, dan teori fungsional.

Dalam kegiatan penelitian tersebut semua data yang disajikan diperoleh melalui observasi, wawancara dan dipadukan dengan hasil studi dokumentasi,

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

About Me

Foto Saya
Bagus Alfiyanto
Mahasiswa yang ga mau repot
Lihat profil lengkapku

Followers

Archive blog

Blog Archive