Pradaningrum Mijarto');" width="70" border="0" height="52" hspace="2">Pradaningrum Mijarto');" width="70" border="0" height="52" hspace="2">
Pedagang kaki lima berjajar sepanjang trotoar di Jalan Kalibesar Timur.
Sore menjelang petang di Kalibesar Timur. Sebuah pemandangan yang sungguh sangat berbeda dibandingkan, setidaknya, awal tahun ini. Suasana dan pemandangan berbeda ini sudah terasa mulai di mulut Jalan Lapangan Stasiun (seberang Stasiun Kereta Api Jakarta Kota). Kemudian berlanjut ke Jalan Bank, di samping Museum Bank Indonesia, lantas ke arah Jalan Kalibesar Barat, Jalan Pintu Kecil di sisi kiri, atau tengoklah ke Jalan Kalibesar Timur.

Arah kendaraan yang melaju di kawasan ini sudah diubah. Jika pada awal tahun kendaraan boleh melaju di Jalan Kalibesar Timur, kemudian diputuskan kendaraan tak lagi boleh belok ke kanan menuju Jalan Kalibesar Timur. Pasalnya, jalanan itu dikhususkan bagi kendaraan parkir dan pejalan kaki.

Meski yang tampak pada sore menjelang petang itu, seperti juga pada petang hari-hari lainnya, bukan pejalan kaki atau pelancong yang memenuhi jalanan dan trotoar di sepanjang jalan tersebut. Yang ada hanyalah serombongan motor, gerobak pedagang kaki lima (PKL), dan muda-mudi yang siap "melahap" di keremangan malam di tepi De Groote Rivier alias Kali/Sungai Besar.

Kesan riuh nan kumuh langsung tertangkap mata. Semakin malam, semakin menjadi-jadi motor dan pasangan yang menumpuk di jalan ini. Di seberang sungai, Jalan Kalibesar Barat, memang terlihat lebih tenang. Tak ada pedagang di sana.

Meski ketenangan itu tak berarti tenang yang bikin nyaman. Motor beserta pasangan-pasangan bebas parkir di sana. Dari sekadar rayu-merayu mendayu, berlanjut menjadi "pancingan", dari sekadar berpegang tangan dan berbisik berlanjut menjadi rabaan dan ciuman, lantas selanjutnya mudah ditebak.

Kalibesar Barat atau Timur sama saja. Di Kalibesar Timur yang biasanya menggelar hiburan "kafe jalanan" kini memang relatif lebih "sepi" dari ingar-bingar musik sember yang meluncur dari pengeras suara, dari kursi dan meja-meja layaknya sebuah kafe. Keberadaan mereka sudah dilarang, begitu kata pedagang di tepi sungai.

Sepi dari manusia-manusia malam yang perlu hiburan dan dihibur, hiburan murah meriah, tentunya, tak lantas menjadikan kawasan itu mati. Sebagai gantinya, jalanan itu bagaikan taman luas bebas bagi siapa pun yang perlu "penghiburan". Meski tentu saja, ada segelintir manusia yang membuang waktu di sana sekadar menikmati Kota Tua pada waktu malam.

Ini baru sebagian kecil dari pemandangan di kawasan yang katanya sedang direvitalisasi itu. Masuk ke inti Kota Tua, di seputaran Taman Fatahillah, Jalan Pintu Besar Utara, Jalan Pos Kota, kondisi tak kalah kumuh. Sebuah panorama yang sungguh tak layak jual.

Pedagang kaki lima berserakan, bertumbukan dengan tenda-tenda berwarnah merah bertuliskan sebuah produk minuman khas negeri Obama (yang sungguh sangat tak layak berkibar di Kota Tua), motor, mobil, manusia yang tak peduli di tempat apa mereka berada, belum lagi onggokan sampah di beberapa titik.

Di halaman Museum Seni Rupa dan Keramik pun tak kalah heboh, entah siapa yang punya ide membuat tenda-tenda suvenir di lahan hijau museum itu. Semua pemilik tenda seperti merasa berhak tetap tegak di sana meski harusnya tenda di sana haruslah tenda yang mudah dipasang dan dilepas.

Semua itu beradu lagi dengan vandalisme yang tak lelah dilakukan oleh pengunjung yang tak bertanggung jawab, berpadu pula dengan lantai bernilai miliaran rupiah yang sudah somplak, rompal, cuil, gempil dengan kotak lampu taman yang sudah berubah jadi sampah mungil. Singkat kata, hancur-hancuran dan makin hari semakin hancur.

Semua orang berkepentingan di sana, semua orang ingin menangguk untung di sana, semua orang–sadar atau tidakmenyiksa kawasan itu.

Tak ada yang salah dengan kegiatan itu. Karena tak ada aturan yang melarang. Yang jadi masalah adalah, apakah revitalsasi Kota Tua memang merancang kegiatan tersebut di dalam programnya? Sekali lagi, pertanyaan dalam benak banyak orang, saya lemparkan di sini.

"Siapakah yang berkuasa dan bertanggung jawab di kawasan tersebut?" Kalau melihat faktanya, tentu yang berkuasa adalah penguasa-penguasa jalanan yang mengaku-ngaku sebagai penguasa atau lebih parah lagi, penguasa yang mengaku-ngaku sebagai awak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Revitalisasi yang menuju pada devitalisasikah ini?

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

About Me

Foto Saya
Bagus Alfiyanto
Mahasiswa yang ga mau repot
Lihat profil lengkapku

Followers

Archive blog

Blog Archive