google.com
ilustrasi

Arung Wardana
KAU BUNUH MAUTKU DENGAN KATA
Yang tercinta

Kau bunuh mautku dengan kata
kau tikam aku dengan hati-hati
kau tusuk aku dengan pelan-pelan
dari kelopak matamu
dari bibir mungilmu
ataupun dari suara isak tangismu
belum sempat kupahami mana yang bermakna maut
dan mana yang bermakna kata

Barangkali aku salah tanam sebuah pohon kaktus
di samping rumah
durinya menusuk seperti membunuh mautku
atau barangkali aku tanam setangkai mawar
di depan rumah
baunya menikam aku seperti kata
yang tak sempat kau ucapkan
atau barangkali aku tak perlu menanam apapun
biar duri maupun baunya tak melukai aku
tapi aku mati dengan pelan dan hati-hati
seperti api yang terpadam halus dengan baranya
yang menyala di belakang rumah
kemudian aku simak sebuah perbandingan
dengan membunuh kan terbunuh
dengan menikam kan tertikam
dengan menusuk kan tertusuk
dengan membakar kan terbakar
antara kayu yang terbakar
dengan pohon kaktus yang tertanam
ataupun setangkai mawar yang terpasung
siapakah yang paling kau cintai
dia
dia
dia
atau tak sama sekali
atau bukan siapa-siapa
atau barangkali kucabut saja pohon kaktus itu
maupun setangkai mawar
biar di halaman depan dan samping rumah
tampak kering kerontang dan dengan gampang
matahari memanggang tubuhku sehingga kian terbakarlah aku
tanpa sebuah bara sehingga tak da lagi
belakang rumah
samping rumah
depan rumah
dan kian tertusuklah aku
tanpa sebuah duri
dan kian hilanglah
sebuah upacara menanam pohon kaktus bersama
menanam setangkai mawar bersama
minum teh bersama sembari menjemput maut

lalu
tikamlah
bunuhlah
tusuklah
bakarlah

semua kata yang tak sempat kau ucapkan
melalui
api
duri
mawar
atau lewat keningmu yang sempat aku tuliskan kata

Maut

Aku mencintai kataku
Dari segenap penjuru aku bakar rumahku
sehingga tampak mata
yang terlihat
bibir mungil
yang tercium
kening yang tertulis
kata
Maut saling mencintai sesama maut
dan tak mau lepas untuk memeluknya

Maka bunuhlah mautku dengan bara
Bukan dengan kata

Karena ku masih melihat bara yang tersisa
Bukan kata

Jakarta, Desember 2009

Arung Wardana
BERLARI KECIL MEMASUKI BATANG-BATANG POHON

Berlari kecil memasuki
batang – batang pohon
bersembunyi dari gonggongan dan aungan
maupun seberkas cahaya yang menembut kulitnya
gigi meruncing
menggigit urat daun
memakannya
menyeka air
mencari kejujuran
mencari kesetiaan
mencari kasih sayang
demi sang waktu
dan satu hari untuk menyusun sajaknya
dari letihnya kemudian melihat dengan tatapan lembutnya
kemudian meraba kulit halusnya
dan jangan kau kau katakan kalau menjaganya
memeliharanya
dan jangan kau buat dia berlari kecil
menuyusuri bukit
sementara tak tahu bukit yang mana
atau sebuah pegunungan
pegunungan yang mana
atau
atau
menyusuri jembatan kayu
atau biarkan saja dia berlari
dan jangan hadang
karena banyak lalu lalang itu
mencegatnya
ketakutan jatuh
padahal hatinya lebih lembut
ketimbang lalu lalang itu
biarkan saja dia berlari kecil
mencari batang-batang pohon itu
atau mengendus-endus baunya daun
tapi barang kali tahu
tahu apa namanya daun itu
biarkan berlari terus menyusurinya
heiiiiii
jangan sentuh dan jangan kau jadikan larinya sebagai simbolik saja
karena dia bukan metafora atau hiperbola yang pantas di perbandingkan
dia bukan sebuah perumpamaan tapi kau lihat saja kulitnya
kau lihat saja ringkihannya ketika lelah berlari
kulitnya adalah kulit sebuah peradaban
bukan sebuah kulit yang bertaring
dan menggonggong
serta mengaung keras
memecahkan telinga
atau biarkan saja waktu itu tak berlari kecil
namun berlari cepat mengalahkan kecepatan angin

Diam dengan lelahnya
cintai dia dengan mata hatimu

Di satu titik penjuru
Menghadap sebuah arah

Barat
Timur
Barat
Barat
Barat

Jangan kau ajarkan dari larinya tentang arah

Ajari saja tentang cinta kepada Tuhannya

bukanlah kita yang sedang belajar mengenal Tuhan

Jakarta, Desember 2009

Arung Wardana
MALAIKAT KECILKU IZINKAN AKU
Yang terlahir menuju surga

Duduk berdua
menghitung bintang
dan membelah matahari
maupun bulan
kemudian berusaha mengenal penkhutbah
Izinkan aku
mengguyur tubuhku
dengan hujan
di atas bak mandi
di bawah langit
berwarna merah saga
aku melihat dari sisi
jendela
malaikat kecil
mengibarkan sayapnya
yang panjang di atas ayunan
yang sudah tersiapkan
atau sebuah puluhan tahun
atau beberapa detik saja
yang berkumpul menunggunya
di dalam lemari akan menceritakan banyak hal
soal tinta dan catatan hitam
baik berasal dari pensil berwarna putih
cokelat
merah
dan hijau
ataupun
ribuan kepala berlomba-lomba
akan mencoba saling mengenal
kau sudah seharusnya mengenal itu sayang
karena kau kan coba merayu
dan menangis pilu
di antara waktu tuk sembahyang
lima
bulan
lalu
di antara
kubacakan sebuah kitab mahabrata
hingga terlelap kau sayang
malaikat kecilku saking percayanya
kau bolak balik kitab itu
karena kau kan membaca dari hatimu
kemudian berlompat-lompatan
memanggil banyak nama
kau sebut saja
Jibiril temanku
Pintalah sebuah wahyu
Mikail saudaraku
taruhlah di sebuah pelataran segenggam emas
Isro’il sahabat karibku
jangan pertemukan aku sebelum di ma’afkannya
Isrofil teman hatiku
tiuplah sangkalala
menjauh dari ubunnya
Munkar Nakir saudara sepupuku
jagalah tubuhku sama hal
seperti dia yang baru saja di kirimkan
Rokib sudara jauhku
catatlah aku tentang restunya
Atid pamanku
hapuslah semua catatam hitamku
jika di lihatnya dengan senyuman
Malik ayahku
jadikanlah api sebagai penyejukku
Ridwan bapakku
turunkanlah tujuh bidadari menggosok dakiku

Malaikat kecilu izinkan aku menyentuhmu sekali saja

Jakarta, Desember 2009

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

About Me

Foto Saya
Bagus Alfiyanto
Mahasiswa yang ga mau repot
Lihat profil lengkapku

Followers

Archive blog

Blog Archive