Menyalahi aturan yang sudah disepakati. Itulah kata kunci yang dipegang Pemprov DKI untuk mengevaluasi ulang kegiatan Wisata Malam, khususnya kuliner. Pasalnya, Wisata Malam yang dibikin Paguyuban Kota Tua Sektor Fatahillah dan Kalibesar itu hanya berkutat di urusan pedagang kaki lima (PKL) yang diberi tenda. Tendanya pun jelas-jelas memperlihatkan sponsor utama, sebuah minuman ringan asal negeri Paman Obama.

Deretan tenda warna merah, kini ditambah tenda warna hijau putih dari sponsor teh yang "fresh", menyambut pengunjung Taman Fatahillah. Sepanjang Jalan Pintu Besar Utara sudah mulai dipenuhi tenda. Semula hanya sampai depan gedung Virgin, kini sudah di muka pintu masuk Museum Wayang. Harusnya lahan warung-warung tenda berhenti pada Virgin.

Kesepakatan lain yang dilanggar adalah jam buka tutup. Menurut Haryanto, Kabag Perekonomian Kantor Walikota Jakarta Barat, jam buka Senin-Kamis adalah pukul 16.00. "Sampai pk 2400. Kalau Jumat-Minggu mulai pk 10-pk 2400. Tapi kenyataannya jam buka tidak sesuai perjanjian," tandasnya kepada Warta Kota Senin (24/5).

Selain itu, tenda yang digunakan juga harusnya bukan tenda yang kemudian dipasang seperti permanen tapi harus bongkar pasang. Dari pantauan Warta Kota, warung tenda itu memang bisa dibilang buka seenak pedagang saja. Yang jelas, sejak pk 1300 bahkan pk 11.00 warung tenda sudah buka. Usai berdagang, tenda-tenda itupun dibiarkan di tempatnya dan tidak dibongkar.

Pedagang warung tenda harus membayar uang sewa Rp 2,5 juta/bulan/tenda. Semua uang ini diurus Paguyuban. Pihak Walikota Jakart Barat maupun museum di sekitarnya dan UPT Kota Tua mengaku tak tau menahu soal uang. "Kita bayar ke gedung itu (sambil menunjuk ke gedung Kertaniaga), bukan ke orang pemda atau UPT," ujar salah satu pedagang yang diamini pedagang lain.

Dengan adanya uang sewa yang tinggi itu, pedagang ternyata kewalahan juga. Karena PKL tanpa tenda juga berserakan di sana dengan harga yang relatif lebih murah.

Perihal kesepakatan yang dilanggar itu diakui oleh Lurah Pinangsia, Sumanta; Kepala Museum Sejarah Jakarta, Rafael Nadapdap; dan pihak UPT Kota Tua. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI, Arie Budhiman, beberapa waktu lalu juga menyatakan hal senada. "Kita sudah kirim surat ke Walikota (Jaklarta Barat) supaya warung-warung tenda itu dievaluasi," ujarnya.

Haryanto menjelaskan, hasil rapat dengan pihak Paguyuban dan Walikota Jakarta Barat sudah memutuskan, akan mengevaluasi keberadaan warung tenda tersebut. "Tgl 8 Juni habis kontraknya dan kita gak perpanjang lagi. Kita akan adakan lagi tapi bisa saja tidak dengan Paguyuban. Yang jelas bentuknya tidak seperti itu lagi," katanya.

Ia juga tidak menampik ketika ditanya soal menghidupkan Kalibesar untuk wisata malam. Karena memang rencana awal Walikota Jakarta Barat, Joko Ramadhan, adalah menghidupkan kawasan selain Taman Fatahillah.

Sementara itu Robert Tambunan dari Paguyugan Kota Tua Sektor Taman Fatahillah dan Kalibesar tidak bisa dihubungi. Pesan pendek Warta Kota juga belum dijawab.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

About Me

Foto Saya
Bagus Alfiyanto
Mahasiswa yang ga mau repot
Lihat profil lengkapku

Followers

Archive blog

Blog Archive